Jumat, 06 Januari 2012

DIPA

Hembusan tanah berpasir yang tertiup angin siang itu memberikan aroma kesejukan tersendiri, begitu pekat dengan debu. Namun entah mengapa butiran itu kini nampak sangat lembut, bergerak kian lincah  kesana kemari mengikuti interupsi sang gerombolan udara.
Namun warna warni dalam sekelilingnya selalu nampak  begitu tak indah. Kusam. Tak berwarna.
Lamunan setianya adalah pada sela-sela jam istirahat kantor – kantor besar menjadi waktu terfavorit untuk sejenak menjadikannya pula jam istirahat. Bangku panjang di samping sekumpulan bunga – bunga yang mengeilliingi kolam terdekat pun dipilihnya menjadi tempat sekedar melepas lelah.
******

“Akan aku beri kamu beberapa koinku, namun kamu harus berjanji terlebih dahulu akan menjadi teman setiaku. Akan selalu ku ajak kamu mengelilingi kota ini. Kita kan selalu bersama.  Janji?“ ia membisikkan celoteh – celoteh riangnya. Dalam benaknya hanya kebersaamaan bersamanyalah yang dapat mengusir rasa bosan yang selalu ia pikul tiap berlalunya detik, menit, jam, dan hari.
 “Aku tak akan pernah bosan bersamamu dan melewati hari bersamamu, karena dengan begitu aku tidak akan pernah lagi mengingat mereka orang–orang dewasa ini, biar aku ceritakan”.
Tangan mungilnya merogoh kantong baju  copang camping dan tak mempunyai warna yang jelas lagi. Pudar karena perpaduan campuran tanah dan entah kotoran–kotoran apa saja yang bergelantung menyatu pada blouse pendek berundak renda di bagian bawah yang Ia kenakakan. Ia menatap sosok gambar  yang terdapat dalam kertas lusuh yang dikeluarkannya dari dalam kain yang terjahit. Bayangannya kini menerawang, ia menengadahkan wajahnya ke langit dibawah pohon pinggiran jalan yang kasat dengan kepulan hitam asap para kuda besi yang lalu lalang dengan acuh tak memperdulikan keadaan dan situasi sekitar jalanan. Ia mulai  menenggelamkan lamunannya terhadap peristiwa – peristiwa yang lalu.

********
“ Ibu.. dimana bapak? Mengapa bapak tak pernah kunjung datang lagi menemui kita ? ibu.. Atin ingin sepatu dan tas baru seperti teman–teman, sudah 3 hari Atin berjanji akan memperlihatkan tas baru pada teman–teman. Ibu.. namun mengapa untuk pergi bersekolahpun Atin tak di bolehkan.. Ibu.. “
Yang ditanya hanya terus menggelengkan kepala tak mengeluarkan sepatah katapun sembari meneruskan melipat baju–baju di kerangjang usangnya yang kian menumpuk, sesekali ia meninggalkan buah hatinya untuk mengambil bungkusan – bungkusan plastik di ruang depan yang harus ia pisahkan dengan wadahnya. Lalu ia pun kembli dengan membawa setumpuk pakaian kusut untuk di rendam dan di bersihkan.
“Ibu.. aku ingin menonton televisi seperti yang ada di rumah iksan sebelah itu bu, oh iya. Ibu selalu terus mencuci, Ibu tidak lelah ? Mau Atin bantu ?” kembali yang ditanya hanya menggelengkan kepala lalu seraya pergi meninggalkan bocah itu sendiri menuju tempat rendaman di sumur belakang rumah.
“Ibu Atin melihat bapak membonceng perempuan cantik kemarin sore saat Atin bermain di lapang, Atin berlari berharap bapak akan berhenti di depan, tapi malah berbelok ke gang sebelah, bapak mau kemana bu?” kembali ia melontarkan pertanyaan–pertanyaan sambil mengikut di belakang setiap langkah perempuan muda yang terus hilir mudik memisahkan cucian–cucian yang telah kering.
” Ibu.. sini. Coba lihat, ini panda yang bapak belikan untuk Atin sewaktu ada pasar malam satu tahun yang lalu. Ibu.. Atin  belum  memberi tahu ibu sesuatu, telah Atin namai panda ini. Dipa bu, panda Atin Dipa. Ibu tentu ingin berkenalan dengan nya kan? Ibu belum pernah menyapanya, sini biar Atin perkenalkan. Nah.. coba ulurkan tangan Dipa, cium tangan ibu yah.. “
 ia menyodorkan satu - satunya benda kebanggaan dan kesayangan yang untuk pertama dan terakhir kali di belikan bapaknya. Entah kapan persis barang usang itu ia dapatkan, Ia hanya dapat mengingat dan mengatakan, selalu. Satu tahun yang lalu. Uluran tangan Dipa disambut oleh lemparan tangan perempuan muda yang hendak Ia perkenalkan. Alhasil Ia pun harus memungut dan membersihkan tubuh sang panda dari sentuhan tanah dalam rumahnya.  Hingga terus mendekap dan memeluknya. Tak pernah lagi sesaatpun terlepas.
********
Ia melihat lambaian tangan penuh hangat dan senyum yang mengembang, tawa yang begitu memanggil penuh keceriaan menariknya untuk melepaskan kaitan tangan mungilnya pada jijingan rowek milik perempuan muda yang sedari tadi ia temani berkeliling mencari koleksi bahan baku nasi kuning untuk didedehkan dini hari samping perempatan gang mereka tinggal.
Begitu dibuat penasaranya Ia. Sesekali dengan tatapan penuh ajak membuatnya terbawa. Ia berlari mengejar diantara keramaian dan kerumunan. Begitu cepat berlalari. Aroma asam di pasar induk sore itu tercium menyeruak begitu tajam. Karena pada sore hari, tepat waktunya pabrik kecap dan spirtus samping pasar  melimpahkan limbahnya, dibiarkan mengalir melewati sungai – sungai belakang. Masih untung kali ini air sungai masih berbentuk dan berupa wajar. Masih konsekwen terhadap warna aslinya, tidak jarang satu minggu sekali aliran sungai selain dipenuhi asam yang kecut, warna berubah menjadi hitam bercampur coklat pekat. Dan itu terpaksa terkonsumsi orang, karena meresap pada sumur–sumur tempat tinggal warga sekitar. Belum lagi kepulan asapnya yang mengindahkan langit biru menjadi abu kehitam–hitaman. Nampak begitu tak sedap di pandang.
Terus Ia mengejar dan meneliti di antara kerumunan macam manusia. Sesekali tersenyum dan tertawa geli, tak jarang kadang terkekeh sendiri melihat tingkah teman sebaya barunya yang sejak tadi Ia buntuti .
Kepulan asap kendaraan berpadu dengan udara panas semakin membawanya jauh keluar dari tempat awal yang Ia tuju. Semakin menjauh hingga terasa kaki begitu lelah.
*****
Rumah kardus pojok bawah jalan layang lah yang menjadi tempat awal perkenalan. Lama sekali awal perbincangan pertemuan mereka. Hingga larut senjapun tak kunjung selesai, sahut menyahut tak henti–hentinya saling bercerita. Kenyamanan itu terus mengalir begitu saja, Ia merasakan akan kedekatan dan kecintaan terhadap sesuatu yang selama ini tak pernah Ia rasakan. Membuatnya enggan untuk berpisah.
******
Waktu bergulir terasa begitu cepat. Tiap waktu. Tiap pagi, siang, malam mereka habiskan waktu bersama. Bercanda gurau saling memberitahu apa – apa mengenai masing – masing diri mereka. Semakin dalam dan kuat nya kebersaamaan mereka hingga lambat laun menciptakan kedekatan emosional yang entah datang tak terduga. Terasahpun belum. Bahagia sekali rasanya melihatnya dapat tersenyum begitu manis. Tertawa lepas. Semakin hari semakin senang dan ceria. Namun, disini ketidakwajaran justru semakin terlihat jelas.
******                                                                                    
Hati hati sekali Ia menyelusuri jalanan. Bersama berpetualang dengan kawan barunya, sesekali mengikuti kawannya meminta minta pada orang – orang berdasi di depan gedung berlantai tingkat puluhan, ataupun pada orang – orang yang melewatinya sepanjang jalan. Kadang juga hanya bermodalkan tutup–tutup botol minuman cukup mengiringi lirih suaranya dalam bernyanyi pada tempat makan satu ke tempat makan yang lain. Selalu begitu berulang tiap hari.
Tak ada kebosanan. Tak ada kejemuan dalam benaknya. Tak ada sedikitpun yang terlintas untuk kembali, hanya satu hal yang membuatnya selalu merasa terganjal. Kertas lusuh yang sempat ia curi dari dalam tas ibunya sewaktu sedang sibuk mencuci, beberapa lalu sesaat Dipa dijatukan hingga eggan dipisahkan. Potretan wajah sumringah seorang laki – laki gagah cukup mengobati sedikit kerinduannya terhadap lelaki setengah baya yang selalu terbayang akan kerinduan dan dihadirkan dalam tiap malam menjelma menjadi bunga mimpi-mimpinya.
*******
“ Ambil saja, ini untukmu. Aku lihat kau begitu lelah dan haus.”
“ Jangan hiraukan aku, yang terpenting kamu dapat kembali benyanyi bersamaku lagi. Ayo.. ambilah saja, segera minum dan telan permen pahit penyembuh itu. Aku tak mau melihatmu layu seperti ini. Mukamu nampak kian memutih dan dingin. Cepatlah jangan kau hiraukan aku.”
Pancaran matahari siang itu begitu terik. Kering. Dan terasa sangat gersang. Panas akan sangat cepat mejalar dan menyambar tiap siapa saja yang hendak menghadang dan berhadapan dengan bola panas kokoh yang tergantung di langit itu.
 Negosiasi yang ia lakukan bersama kawannya sangat pelik. Setengah botol air mineral yang dibeli menggunakan uang bersama kini harus direlakannya untuk sang kawan. Kekhawatirannya nampak begitu kuat. Enggan terlepas dari kawan sejatinya.
Sesekali ia memperhatikan kawannya dengan penuh simpati. Dalam penglihatannya terkapar begitu payah. Segala cara dan usaha ia jalankan. Tak pernah lengah detail memperhatikan apa yang dibutuhkan olehnya. Sibuk dengan kesendiriannya.
*****
Dibawah pohon taman kota ia menggelar koin–koinnya. Menikmati udara panas yang kian terasa sejuk. Sesekali bercanda gurau saling menyerang ejekan satu sama lain. Bersamaannya lah yang ia damba–dambakan. Keinginan saling menjaga juga lah yang selalu menjadi semangat perkawanan nya.
Detik melewati menit,  menit berganti jam, jam melanjutkan pada hari, hari – hari telah ia lalui. Berminggu. Berbulan bulan. Ia selalu merasa ditemani, ia tidak pernah lagi merasa sepi. Waktu telah membawanya ke bayangan lain, bayangan ciptaannya sendiri yang tak terlekang tanpa batas. Waktupun tak menyisakan kesadaran bahkan kegamangan.
Ia melangkah, melenggang santai beriringan dengan penuh tawa. “Beriringan”. Selalu berdua. Berdua dalam satu. Bersatu dalam dua bayangan. Penuh imajinasi dalam fikiran.
Dipa pun tercipta menjadi kawan setia ilusinya yang dijadikannya begitu nyata.
*****
Senja menaburkan semerbak sisa–sisa titik cahaya sang surya. Angin malam siap menjemput dan menjelmakan hari menjadi gelap. Dinginya udara tak lekas hendak membuatnya melenyapkan ilusi–ilusi dalam angan angannya. Akan selalu hidup dalam bermimpi. Selalu setia tak akan pernah dapat terpisah. Lagi.


Bandung, Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar